Menghidupkan (kembali) Sepakbola yang Damai


Oleh: Thoriq Ali*

Pertandingan sepak bola merupakan tontonan dan hiburan bangsa Indonesia, baik remaja, pemuda, dan dewasa. Banyak di antara mereka yang menonton sepak bola secara langsung, yaitu dengan cara datang ke stadion, dan ada juga yang live streaming maupun melalui televisi. Mereka yang di stadion terlihat sangat ramai, satu orang menyapa orang lain, yang tidak kenal menjadi kenal, mereka juga memberikan semangat dengan meneriakkan klub kebanggaannya agar meraih kemenangan. Begitulah suasana nonton bareng di stadion.

Namun keindahan nonton bareng itu justru dinodai oleh peristiwa yang sangat kronis. Berkali-kali kerusuhan terjadi di tribun penonton, dan hal yang sangat disayangkan adalah justru para pemainnya juga ricuh di rumput hijau. Sembilan puluh menit yang disediakan oleh regulasi bukan lagi menjadi ajang adu strategi, melainkan hanya caci maki yang berujung mala petaka.

Dendam yang mengakar sampai ke hulu pembelaan atas fanatisme yang sangat meluap-luap tak lagi bisa dihentikan dengan hanya sebatas ucapan, boleh lah kita membela apa yang kita yakini milik kita dan tanah kita, tak salah kita bela mati – matian sampai titik darah penghabisan, tetapi cukuplah hal tersebut terjadi hanya dalam jangka waktu sembilan puluh menit. Selebih itu dan sesudah itu kita kembali seperti sebelumnya lagi, saling tegur sapa dengan senyuman, saling bahu membahu satu sama lain dengan tindakan yang aman.
 

Marilah kita coba sedikit merefleksi apa yang sudah terjadi saat ini memang setelah melakukan tindakan tersebut kita meresa lega dan puas, tetapi ? setelah itu ? dampak yang di timbulkan bisa menjalar kemana-mana, emang kita mau seperti dulu lagi ? federasi dibekukan tak bisa menjalankan tugas nya dengan secara automatis roda kompetisi pun tidak bisa berjalan tanpa ada induk yang menaungi.

Dendam lama yang telah terjadi bisa saja sebenarnya dilebur melalui “Persatuan Indonesia”. Tanpa disadari kita bisa melakukan hal itu, contoh kecil ketika mengawal sang kebanggaan Negeri ini Tim Nasional Indonesia, tak ada yang memakai atribut tim kebanggan masing-masing, tak ada yang mendukung hanya satu pemain yang berasal dari tim kebanggan masing-masing, semua melebur menjadi satu kesatuan, satu suara, satu komando meneriakan INDONESIA....!!!


Jika memang persepakbolaan Indonesia ingin maju menuju pentas dunia, sudah saatnya kita menjadi satu kesatuan turunkan ego fanatisme, hapuskan, kubur dalam-dalam dendam dan kekecawaan yamg telah lama mengakar, mulai detik ini tumbuhkan dan pupuk sebanyak-banyak nya moral perdamaian, setop ujaran kebencian di tribun penonton dan di lapangan hijau. Sepakbola kita hari ini sangat haus akan perdamaian, oleh karena itu para supporter perlu menyadari untuk menghidupkan kembali perdamaian antar sesama manusia.


*) Penulis adalah Mahasiswa Magister HKI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Post a comment

0 Comments