Salah Strategi Berujung Pilu


"Mas, nanti ke masjid yuk". Ajak Ve.

"Emang kenapa? Gak biasanya kamu ngajak ke masjid". Sahut Varel.

"Haha bisa ae mas, aku dah biasa keles ke.masjid... emangnya aku laki-laki apakah...

Aku ngajakin ke masjid ya buka bersama di masjidlah, kan ada nasi bungkus gratis". Kelakar Veros.

"Really? Wah enak juga, bisa ngirit pengeluaran nih". Sahut Varel lagi.

"Serius dong, selama dua hari ini aku dapat makan gratis terus dari masjid. Kemarin itu nasinya malah sisa banyak, jadi banyak yang ambil dobel". Jelas Veros.

"Wah enak juga, oke deh kalo gtu nanti kita bareng". Varel mengerti sambil manggut-manggut.

"Oke... Tapi hari rabu ini ada pengajian mas". Sambung Veros.

"Kalau gitu kita berangkat sebelum mahgrib biar ikut pengajian dan kebagian nasi kotak, hehe". Varel mejelaskan mengenai strateginya.

"Berangkat habis maghrib saja mas, kebagian kok". Bantah si Veros, karena dia sudah terbiasa berangkat setelah maghrib.

"Okelah". Jawab Varel.

Varel masuk ke kamar lagi untuk meneruskan membaca bukunya Sigmund Freud yang sebentar lagi selesai. Semakin lama membaca, aku semakin larut dalam memahami kalimat demi kalimat dari buku itu, sampai tak sadar jika adzan maghrib telah berkumandang. 

"Saatnya aku melakukan sunnahnya puasa, yaitu mempercepat berbuka". Kata Varel dalam hatinya.

اَللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

Di hadapan Varel tidak ada makanan yang enak atau minuman yang mewah. Hanya ada air putih dan kerupuk. Varel meminum air putih itu dengan senang hati dan memakan satu kerupuk yang diolesin saos. Kriuk kriuk kriuk sampai habis.

Walaupun begitu, baginya buka puasa hari ini terasa exiting, karena sebentar lagi akan mendapatkan nasi bungkus secara gratis. Satu bungkus nasi sangat berarti untuk Varel dan Veros yang berada di perantauan. Mereka tidak peduli seberapa banyak uang yang dimilikinya, karena pada prinsipnya perantau itu harus ngirit. Program pengiritan selama ramadan ini kuncinya hanyalah satu, jangan malas berkunjung.

"Ayo kita berangkat ke masjid". Varel mengajak Veros.

"Nanti mas, aku ngganjel rasa laparku ini dengan sepiring nasi". Sahut si Veros.

"Oke, jangan lama-lama". Varel menimpali.

Lima menit kemudian akhirnya kegiatan ganjel mengganjelnya selesai, Veros mengajak Varel pergi ke masjid. Sesampainya di masjid, mereka mengarahkan pandangannya pada meja di samping masjid yang biasa digunakan untuk menyediakan puluhan nasi bungkus. Tapi... kok tidak ada satupun nasi bungkus yang terletak di mesa, air mineral pun tidak ada.

Tanpa berlarut-larut memikirkan nasi, mereka memutuskan untuk mengisi shaf yang masih kosong. Saat si Varel berjalan menuju shaf, kakinya justru menginjak biji kurma dan menempel di telapak kakinya. Biji kurma yang lengket itu nampaknya tidak mau lepas dari telapak kakinya, sehingga saat shalat di rakaat pertama, biji kurma itu masih lengket di telapak kakinya. Mereka shalat maghrib berjamaah terlihat khusyu, pandangannya ke bawah dan mulutnya terlihat komat-kamit membaca surah-surah pendek.

Tapi ternyata dua orang itu belumlah selesai memikirkan perihal tidak adanya nasi. Dalam shalatnya mereka masih memikirkan nasi.

"Kemana nasi itu berada" pikir Varel. 

"Haha pasti mas Varel masih mikirin nasi" Sahut Veros dalam hatinya.

Usai salam, keduanya saling berpandangan dan senyum-senyum sendiri. Setelah keluar masjid, mereka baru tertawa kencang... Hahaha... Kasihan deh lu, gak dapet nasi.

"Kan kita sama-sama gak dapet nasi mas..."

"Oia, ya syudah kita pulang saja", ajak si Varel.

Sesampainya di kosan, mereka masih menertawakan diri mereka masing-masing sampai lemes. Gara-gara harapan dan keyakinan yang tinggi, dua orang ini justru tidak mendapatkan apa-apa. Mereka berdua kemudian menyadari bahwa strategi yang mereka gunakan salah kaprah, karena strategi yang digunakan si Veros itu tidak bisa selalu diterapkan pada situasi yang berbeda.

Post a comment

0 Comments