Warung Vulgar Diprotes Security


Pak Gan bukanlah orang yang gampang putus asa, dia pekerja keras, tak kenal lelah, dan selalu memotivasi teman-temannya untuk rajin bekerja. Terkadang kalau tidak ada tugas lembur dari si bos, pak Gan malah nglembur sendiri di kantor. Entah apa yang ia lemburin, yang pasti dia percaya bahwa Allah Maha Tahu dan Allah Maha Mengerti serta selalu memberikan kenikmatan yang sesuai dengan perjuangan.

Memasuki bulan ramadan, pak Gan agak kurang fokus bekerja di kantor, ia ke kantor hanya ngisi absen dan ngobrolin macem-macem sama teman-teman nya. Kini ia lebih sering mengerjakan tugas-tugas nya di rumah daripada di kantor. Saat jam istirahat, pak Gan sudah tidak terlihat lagi di kantor. Entah kemana perginya, karena ia tidak meninggalkan wasiat sebelum pergi.
____

"Es tehnya mana mba... Lama banget yak... " Tanya pak Gan dari depan warung.

Sabar dong pak... bulan puasa ini jangan disamain sama bulan-bulan lainnya... jadi ya banyak yang belum siap... nih es tehnya. Jangan lupa lho...! Bayar hutang...! Masak kerja kantoran ngutang. Sahut Bu Vulis sambil berjalan menuju ke arah pak Gan.

Pak Gan menerima es teh itu dan menyeruputnya, eh menenggak. Kalau menyeruput biasanya kan kopi. "Ahhhhh segerrr, es tehnya bu Vulis tiada duanya". Kemudian ia menghisap sebatang rokoknya dalam-dalam.

Sedang nikmat-nikmatnya merokok, tiba-tiba ada orang mengendarai motor menuju ke arahnya. Pak Gan penasaran, dengan penuh selidik, ia melihat secara seksama untuk mengetahui siapa gerangan pemotor itu. "Wow kok pak security kantor ke sini, mau ngapain dia"? tanyanya dalam hati.

"Heeeh puasa-puasa kok ngerokok kebal-kebul gitu, minumnya es teh lagi. Ini warungnya kok vulgar banget too, kelihatan banget dari luar. Pak Gan juga ini, malah ngrokok di luar". Protes security yang biasa dipanggil pak Ndan.

"Soalnya kalau gak begini gak tahan haus terus perut saya cepet laper pak Ndan". Sahut pak Gan.

"Puasa-puasa kok warungnya buka to bu... mana yang punya warung ya, bu..." Tanya pak Ndan sambil mencarinya ke dalam warung.

"Iya... iya... bagaimana pak Ndan?" Bu Vulis menjawabi dari dapur warung sambil berjalan menuju ruangan depan.

"Bu, ini kan bulan puasa, warungnya ya ditutupin kain atau terpal atau kertas koran. Menghormati orang yang sedang berpuasa gitu lho". Pak Ndan membari nasihat.

"Iya pak, tapi tolong saya dibantu masang kain pak". Tanda bu Vulis menerima nasihat pak Ndan.

"Asyiaapp,, mana kainnya saya bantu pasangin. Kainnya yang bagus dan tebal ya biar ga tembus pandang kalau dilihat dari luar. Sama tali juga jangan lupa". Pinta pak Ndan.

"Ini ndan kain sama talinya, ayo bantuin masang di jendela". Ajak bu Vulis.

"Ini ditali di sana cepetan, yang ini biar saya yang nali dari sini. Gak enak kalau dilihat warga, masa puasa-puasa warung makan kok tetep buka dan kelihatan makanannya dari luar". Celoteh pak Ndan sambil memasang kain penutup jendela warung.
___

Misi pemasangan kain telah berhasil, pak ndan merasa lega dan ia segera duduk di kursi melepas penat. Sedangkan bu Vulis kembali ke dapur untuk memasak sayur dan lauk untuk disajikan di warungnya.

"Nah gini kan enak gak kelihatan dari luar. Ya sudah sini bu aku mau makan, buatin es teh juga". Pinta pak Ndan.

Ketika pak Gan mendengar permintaan pak Ndan itu, otomatis ia masuk ke dalam warung seraya berkata "Lhooo ternyata modus to pan ndan ini. Nyuruh-nyuruh nutupin warung pakai kain, ternyata biar gak kelihatan kalau pak ndan ini makan. Wakakaka....".

Post a comment

0 Comments